Jumat, 20 Januari 2017

Budaya Bali Kuno



BUDAYA BALI KUNO

     Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Budaya Bali adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki oleh masyarakat Bali dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan dan karya seni.
Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Budaya memiliki sifat yang tidak kekal, seiring perkembangan jaman suatu dapat berubah-ubah sesuai dengan pengaruh atau atau kemajuan ilmu dan teknologi.

1. Desain Bangunan
             

         Desain rumah masyarakat Bali seperti gambar diatas terlihat bahwa bentuk rumah yang sangat sederhana. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan rumah juga sangat sederhana. Bahan-bahan yang digunakan antara lain, tanah yang ditumpuk-tumpuk sehingga berwujud tembok dan atap rumahnya menggunakan rumput lalang atau daun kelapa. Tradisi rumah ini mulai ditinggalkan saat ada pengaruh dari luar dan pengaruh jaman dan teknologi seperti sekarang ini. Saat ini masyarakat khususnya di Bali menganggap bangunan seperti itu sudah "ketinggalan jaman". Masyarakat seolah-olah berlomba membuat bangunan rumah senyaman mungkin. Mengenai tata ruang bangunanpun saat ini sudah tidak diperhatikan lagi. Masyarakat sekreatif mungkin membuat bangunan yang menarik tanpa memperhatikan tata ruang yang biasa dibuat oleh masyarakat jaman dulu.


2. Baju/pakaian Masyarakat Bali



 
Jaman dahulu, masyarakat Bali memiliki Budaya berbusana seperti gambar di atas. Hampir semua masyarakat bali hanya memakai busana pada bagian bawah saja, yaitu dari perut sampai ke kaki. Busana tersebut berbahan kain yang di pakai dan diikat dengan sebuah selendang sehingga berbentuk kamben.Sedangkan bagian atas, biasanya masyarakat Bali jarang menggunakan pakaian sehingga tubuh bagian atas tetap telanjang.
Seiring kemajuan jaman dan teknologi, budaya berbusana ini ditinggalkan oleh Masyarakat Bali. saat ini masyarakat Bali sudah memakai busana tertutup, artinya masyarakat sudah memakai busana lengkap, baik bagian    atas maupun bawah.
 
3. Permaian Tradisional Bali

    
    

    Salah satu permainan tradisional adalah permainan Meong-meongan. Meong-meongan merupakan salah satu permainan tradisional yang umum dimainkan oleh anak-anak di Bali diiringi oleh nyanyian lagu meong-meongan. Permainan ini menggambarkan usaha dari si kucing atau dalam bahasa bali disebut dengan meng untuk menangkap si tikus atau bikul.

       Dalam permainan ini biasanya diikuti oleh lebih dari 8 orang dimana 1 orang akan berperan sebagai si tikus atau Bikul dan 1 orang lagi berperan sebagai Meng (kucing) dan yang lainnya berperan untuk melindungi Bikul dari Meng dengan cara membentuk lingkaran kemudian si Bikul berada di dalam lingkaran, sedangkan Meng berada di luar lingkaran. Meng akan berusaha untuk menangkap si Bikul. Anak-anak yang membentuk lingkaran akan berusaha untuk menghalangi Meng masuk ke dalam lingkaran. Si Meng baru boleh menangkap si bikul ketika lagu sudah pada kata-kata Juk-Juk Meng Juk-Juk Bikul.